Selasa, 08 Februari 2011

Dalih Pembunuhan Massal ( John Roosa)

Apa yang membuat buku Roosa sangat menarik dalam pandangan saya adalah penemuan bukti-bukti baru tentang berbagai hal menyangkut Gerakan 30 September (G-30-S) dan sekalian analisis mengenainya, rekonstruksi alternatif atas kejadian G-30-S ala Roosa, serta kearifan yang dikandung oleh buku itu.

“Dalih Pembunuhan Massal”, berbeda dengan buku-buku dengan tema sejenis, tidak serta-merta mengarahkan jari telunjuk kepada pihak-pihak tertentu sebagai dalang G-30-S. Entah itu PKI, Suharto dan komplotan Angkatan Darat-nya, Soekarno, maupun CIA. Roosa agaknya memulai riset untuk bukunya ini dengan pikiran naif dan rasa penasaran yang membuncah. Emm, sebenarnya Roosa (memang) tidak senaif itu dan naskahnya pun tidak sedingin layaknya naskah penelitian yang berjuang sekuat tenaga untuk menjunjung tinggi value free, namun Roosa sedikitnya sengaja –buah dari sikap hati-hatinya- untuk mencermati dan mencerna berbagai bukti baru guna mengkaji apa yang sebenarnya terjadi dalam G-30-S. Oleh karena itu, meski Roosa tampak memiliki tendensi untuk membela PKI –sebagai wacana tandingan terhadap propaganda Orde Baru, Roosa tetap memperlakukan aktor-aktor lain dengan fair dan berimbang. Hal inilah, menurut saya, salah satu keunggulan buku ini.

Selain perlakukan Roosa terhadap bukti, saya pikir kesimpulan buku ini pun cemerlang dan menunjukkan kapabilitas Roosa sebagai sejarawan mumpuni. Roosa tidak menganalisis pelaku/aktor G30S dengan “sekali pukul dan ketahuan, setelah itu selesai.”

“Kelemahan penyelidikan-penyelidikan tentang G-30-S terdahulu terletak pada titik tolak mereka: dugaan bahwa pasti ada dalang di balik gerakan itu. Menurut hemat saya tidak ada ‘otak’ yang utama, apakah ia berupa tokoh, ataukah suatu gugus rapat orang-orang yang terorganisasi mengikuti pembagian kerja serta hierarki kewenangan yang jelas. G-30-S menjadi bersifat misterius justru karena tidak adanya pusat pengambilan keputusan yang tunggal.” 

Maksudnya, Roosa mendasarkan analisisnya terhadap sejauh mana para aktor itu berkontribusi terhadap G-30-S, di dalamnya juga termasuk pembatasan mengenai hal-hal apa saja yang sebenarnya tidak termasuk kontribusi para aktor tertentu dalam peristiwa G-30-S. Hal inilah yang membuat saya sangat menyukai buku ini. Roosa secara terang-terangan menolak propaganda Angkatan Darat bahwa PKI merupakan aktor utama G-30-S. Roosa menulis bahwa bukti-bukti baru, yaitu dokumen Supardjo, uraian tanggung jawab Sudisman, dan wawancara dengan mantan petinggi PKI bernama samaran “Hasan,” justru tidak menunjukkan demikian. Unsur PKI yang terlibat dalam G-30-S hanya terbatas kepada D.N. Aidit, Syam (Kamaruzaman), dan Biro Khusus. Ketiganya tidak bisa langsung dijadikan sebagai representasi kehendak PKI untuk turut serta dalam G-30-S. Fakta ini sangat memengaruhi kesimpulan Roosa untuk menyatakan bahwa pemberangusan terhadap PKI pada masa pasca-G-30-S yang dilakukan oleh Angkatan Darat, sebagai hasil dari kesimpulan prematur dan propaganda bahwa PKI adalah dalang utama, itu tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang manapun. Dengan kata lain, Angkatan Darat –dalam ungkapan yang sangat halus- telah bertindak tidak proporsional terhadap PKI: pembunuhan beratus ribu –angka pasti belum diketahui- petani, buruh, guru, dan aktivis PKI tentu sangat tidak sepadan dengan kematian tujuh perwira tinggi Angkatan Darat, terlebih lagi apabila dibandingkan dengan hasrat busuk Suharto dan Angkatan Darat untuk berkuasa.

Pada tataran yang lain, Roosa menunjukkan hal yang lebih menarik, yakni kelihaian dan kecerdikan Suharto beserta eksponen Angkatan Darat-nya yang berafiliasi dengan CIA, dalam memanfaatkan G-30-S. Menurut Roosa, Angkatan Darat memang tengah menantikan suatu peristiwa bombastis berkaitan dengan upaya pendongkelan Presiden Sukarno, maupun peristiwa berskala cukup besar lainnya yang memiliki intensi untuk merebut kekuasaan negara. Tujuan mereka, tentu saja, untuk menghancurkan PKI sebagai musuh politik Angkatan Darat dan menjatuhkan Sukarno karena dinilai terlalu dekat dengan PKI sehingga mengancam Angkatan Darat serta kepentingan Amerika Serikat. Angkatan Darat memiliki harapan besar bahwa sekali peristiwa semacam itu terjadi, PKI-lah yang akan didiskreditkan. Bahkan, berdasarkan bukti data-data CIA yang telah dideklasifikasikan, Roosa menulis bahwa Angkatan Darat sengaja menghembuskan isu dan berbagai upaya lain guna memancing PKI melakukan semacam upaya pendongkelan kekuasaan negara. Salah satu manifestasi strategi busuk Angkatan Darat ini adalah isu Dewan Jenderal akan melakukan kudeta. Angkatan Darat menginginkan PKI, khususnya pada tingkat Politbiro dan Komite Sentral, untuk berpikir bahwa apabila Dewan Jenderal berhasil melakukan kudeta maka PKI akan dihancurkan. Unfortunately, Aidit, Syam, dan Biro Khusus termakan perangkap Angkatan Darat ini. Dalam ungkapan Roosa, Aidit, Syam dan Biro Khusus, serta para perwira pro-PKI ini memilih, “rencana mendahului,” kudeta rancangan Dewan Jenderal tersebut. Hal ini pada akhirnya berujung kepada kegagalan G-30-S dan pemenuhan dalih yang dibutuhkan oleh Angkatan Darat untuk menggasak PKI.

Di samping kelebihan dan keunggulan buku Roosa yang telah dijelaskan di atas, “Dalih Pembunuhan Massal” pun tentu memiliki kekurangan. Menurut saya, sedikitnya ada satu kekurangan dan satu saran yang dapat dialamatkan kepada buku tersebut. Untuk kelemahan, saya berpikir Roosa terlalu mengecilkan arti pembunuhan terhadap para perwira Angkatan Darat. Memang meski PRRI/Permesta dan peristiwa-peristiwa lain memiliki intensitas dan skala ancaman yang lebih besar, peristiwa pembunuhan ini agaknya harus dilihat lebih bijaksana. Bagaimanapun, pembunuhan ini tentu turut mendorong semangat para perwira Angkatan Darat dalam spektruk politik Kanan untuk benar-benar mengganyang eksponen G-30-S. Andaikata G-30-S tidak gegabah dengan membunuh para jenderal dan bertindak sesuai dengan rencana semula, yakni menghadapkan “Dewan Jenderal” ke Presiden Sukarno, Suharto dan Angkatan Darat tentu tidak memiliki dalih yang terlalu besar untuk benar-benar menghancurkan G-30-S, sekaligus dengan PKI yang dituduh sebagai dalang utama. Apabila para jenderal itu tidak terbunuh, mungkin Presiden Sukarno akan memberikan restu kepada G-30-S dan memenuhi keinginan PKI tentang reorganisasi susunan kabinet. Dalam tahap ini, saya pikir keadaan terbunuh/tidak terbunuhnya para jenderal turut menentukan jalan cerita G-30-S.





Senin, 07 Februari 2011

Poke Download : Vakansi (White Shoes and The Couples Company)

Tahun untuk White Shoes & The Couples Company (WSATCC) bukanlah waktu yang dirasa sebentar untuk melangkah sejauh ini. Menghadirkan 3 album setelah sebelumnya mengeluarkan album pertama di tahun 2005 dan mini album Skenario Masa Muda di tahun 2008 lalu, kini WSATCC siap menebar virus album terbarunya yang bertajuk "Album Vakansi".

Beranggotakan Aprilia Apsari (vokal), Rio Farabi (gitar akustik, vokal latar), Saleh Husein (gitar elektrik, vokal latar), Ricky Surya Virgana (bass, cello, vokal latar), Aprimela Prawidyanti (keyoboards, piano, viola, vokal latar) dan John Navid (drum, perkusi), WSATCC akan mengiris telinga rilekser semua dengan lantunan lirik-lirik mempesona ala Aprilia Apsari dkk.

"Rasanya baru kemarin kami masih duduk berkumpul memainkan lagu-lagu kami menumpang di kelas jurusan musik hanya dengan piano dan gitar akustik bahkan kadang di tengah sebuah studio yang belepotan tanah liat, kadang ditemani bau cat minyak atau bau M3 (pelumat tinta sablon). Semua yang berlalu selama lebih kurang 8 tahun ini tidak terasa dilewati, kadang bahkan ada memori-memori manis yang terlupa." ujar sang vokalis dalam rilisnya kepada rileks.com beberapa waktu lalu.

Bertempat di Galeri Foto Antara, Jl. Antara no. 9, Pasar Baru, Jakarta. WSATCC sukses berat membuat para penggemar dan wartawan yang hadir berdecak kagum akan album yang menggandeng musisi-musisi legendaris seperti Fariz RM, Riza Arshad dan gitaris jazz, Oele Pattiselanno itu.

Seperti diketahui, Album Vakansi adalah Koper, Catatan Harian atau Kotak Memori dari pengalaman melalui hari-hari bersama White Shoes & The Couples Company. Catatan pergi ketempat-tempat baru, mengalami hal-hal baru serta rangkaian cerita lainnya yang dialami oleh anak-anak muda WSATCC yang mengobarkan semangat tinggi dan selalu mengutamakan  kekuatan semangat muda.

Penasaran seperti apa isi dari kekuatan "Album Vakansi" nya WSATCC? silahkan langsung aja meluncur ke toko-toko kesayangan kamu!

WSATCC "Album Vakansi" :

1. Berjalan-jalan
2. Zamrud Khatulistiwa
3. Senja Menggila (Versi 2010)
4. Selangkah Keseberang
5. Rented Room
6. Kampus Kemarau
7. Sans Titre
8. Hacienda
9. Masa Remadja
10. Ye Good Ol’ Days
11. Vakansi
12. Kisah Dari Selatan Jakarta
13. Matahari



DOWNLOAD VAKANSI
Minggu, 06 Februari 2011

Poke Download : All Shall Align 2010 (Archspire)



Hanya satu kata untuk band ini CADAS!!! Tanpa banyak ba bi bu lagi silahkan download dan mulai lah ber headbang!!!

Archspire (All Shall Align 2010) Download DISINI!!!
Sabtu, 05 Februari 2011

Poke Download : Tragicomedy ( Polyester Embassy )

“Tragicomedy” sebuah album yang dirilis tahun 2006 oleh ffwd records dari sebuah band bernama Polyester Embassy asal Bandung. Album itu berisikan 9 lagu, menampilkan suasana ruang angkasa yang menvisualisasikan keabsurdan kehidupan manusia yang manis sekaligus indah. Mendengarkan album ini seperti melihat evolusi manusia dalam wujud lain.


“Orange Is Yellow” yang menembus relung jiwa dengan determinasi gitar di intro lagu yang berdurasi sampai 7 menit ini, Polyester Embassy merebakkan pesan pertamanya akan sebuah musik yang mencoba mengatakan bahwa kesempurnaan itu dapat dicapai. Mereka tidak takut akan suara yang hendak mereka bentuk dan sampaikan. Efek bergema dari alunan gitar mengiringi nada melodis dengan diiringi suara drum dan bas yang menancap pada pikiran kita, membuat lagu ini berfungsi sebagai pesan serius Polyester Embassy, bahwa mereka berusaha yang terbaik buat album ini.

“Blue Flashing Lights” yang diawali dengan raungan gitar seakan hendak merobek keterbatasan alam pikiran kita. Mereka tidak berhenti di situ saja, dengan dilatarbelakangi loop yang menghipnotis, Elang Eby sang vokalis band ini lalu bernyanyi dengan suara yang tidak kalah menghanyutkan dengan suara gitar mereka “Can’t you see, it’s shine on, it’s shine on” terus menerus sepanjang lagu.

Secara tidak sadar kita pun tenggelam dalam pelukan musik mereka.Lagu itu disambung dengan “The Answer Is No” yang juga tidak kalah membahayakan dalam memperkosa panca indera kita. Kita akan menghayal bersama mereka, dibawa terbang ke sebuah perasaan yang sulit untuk dikatakan apa yang sebenarnya kita rasakan. Ini adalah sebuah bentuk lain dari pencapaian keagungan yang tak akan pernah kita raih. “Ruins” memberikan kita ketenangan sejenak, dengan tempo yang relatif lebih lambat dibanding lagu-lagu lainnya di album ini. Di lagu ini Polyester Embassy membalut kita dalam suara melodis musik mereka yang penuh dengan perasaan kegembiraan yang aneh sekaligus menghenyakkan, nyaris berkesan religius. Pejamkan mata kalian dengarkan Elang Eby membisikkan “She turn on the light, she make my day so bright… Then now the light are off I surrounded by inky dark…Will she feed me when I’m drown or she killed me when I’m young, I’m just sit here to catch and take as much as you can throw, don’t you know it’s not so great in here. Wise one comes and than the ruin fall on me”. Lepaskan semua perasaan, dan kalian akan mengerti apa yang dimaksud.Suara bas yang membuka jalan dalam kegalauan seorang mahluk hidup mengawali “Polypanic Rooms”, yang kemudian diisi cepat dengan kombinasi dua suara gitar, seakan hendak menggusur keluar kegalauan itu dari jalan hidup kita. Ini adalah puncak sebuah epik yang ditampilkan Polyester Embassy. Kemegahan tanpa tanding, sampai kita tiba di akhir lagu ini dan berteriak menyambut matahari “I love you like I love the sunrise in the morning”.
Ditutup dengan lantunan damai dalam “Home”, Polyester Embassy menampilkan sebuah bentuk kesempurnaan yang walaupun berbeda spektrum, tidak pernah ditemukan dalam band asal negara ini sejak debut album Pure Saturday. “Tragicomedy” adalah karya sebuah band yang tidak takut untuk memberikan keindahan dalam suara eksperimentasi mereka. 9 lagu yang membentuk album ini, mempunyai potensi untuk menjadi sesuatu yang akan selalu diingat sepanjang masa. “Tragicomedy” adalah langkah pertama di mana sebuah legenda akan terbentuk.

download Album Polyester Embassy

Download Buku : Di Bawah Lentera Merah ( SOE HOK GIE )


 "Karena setiap lembarnya, mengalir berjuta cahaya, karena setiap aksara membuka jendela dunia" begitulah kira-kira lirik pada lagu jangan bakar buku itu yang dinyanyikan Efek Rumah Kaca, jadi nggak ada salahnya kalau kita sedikit belajar pada buku "Dibawah Lentera Merah" 

Di Bawah Lentera Merah adalah buku karangan Soe Hok Gie (yang merupakan skripsi sarjana mudanya) yang menarasikan satu periode krusial dalam sejarah Indonesia yaitu ketika benih-benih gagasan kebangsaan mulai disemaikan, antara lain lewat upaya berorganisasi. Melalui sumber data berupa kliping-kliping koran antara tahun 1917-1920-an dan wawancara autentik yang berhasil dilakukan terhadap tokoh-tokoh sejarah yang masih tersisa, penulisnya mencoba melacak bagaimana bentuk pergerakan Indonesia, apa gagasan substansialnya, serta upaya macam apa yang dilakukan oleh para tokoh Sarekat Islam Semarang pada kurun waktu 1917-an.

Di bawah pimpinan Semaoen, para pendukung Sarekat Islam berasal dari kalangan kaum buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah wujud pertama dari perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang dari gerakan kaum menangah menjadi gerakan kaum buruh dan tani. Saat itu menjadi sangat penting artinya bagi sejarah modern Indonesia karena menjadi tonggak kelahiran gerakan kaum Marxis pertama di Indonesia.
Pertimbangan lain mengapa Di Bawah Lentera Merah menjadi penting adalah karena buku ini memotret bagaimana gagasan transformasi modernisasi berproses dari wacana tradisional ke wacana modern. Lebih khusus lagi Soe Hok Gie, melalui buku ini, mengajak kita mencermati bagaimana para tokoh tradisionalis lokal tahun 1917-an mencoba menyikapi perubahan pada abad ke-20 yang dalam satu dan lain hal, punya andil menjadikan wajah bangsa Indonesia seperti sekarang ini. Selain itu yang perlu ditekankan bahwa salah satu sumber buku ini merupakan saksi hidup dari pergerakan tersebut yakni Semaun dan Darsono sendiri. Hal yang menarik dari buku ini diungkapkan oleh Soe Hok Gie bahwa untuk mengetahui pemberontakan Partai Komunis Indonesia pada 1926/1927 harus diketahui pula asal mula pergerakannya. Karena tanpa mengetahui permulaannya seperti membaca koran dari tengah-tengah. 

Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta tahun 1999, tapi kalian bisa download buku DIBAWAH LENTERA MERAH DISINI
Jumat, 04 Februari 2011

the trees & the wild ( RASUK )

The Trees and The Wild mungkin masih asing di kuping sebagian kalian. Band ini memang terhitung baru. Terbentuk dari pertemanan masing-masing personilnya sejak bangku sekolah. Andra dan Remedy berteman sejak SMA dan pernah membuat proyek akustik bersama ketika kuliah. Sedangkan Iga adalah teman Andra di sebuah band blues, Enterprising John yang juga temannya sejak SMP. Di tahun 2006 mereka mulai mencoba menulis beberapa lagu. Beberapa karya pun tercipta. Dari sanalah perjalanan panjang The Trees and The Wild dimulai. Mereka menawarkan komposisi musik akustik yang sederhana dan ear catching. Mudah dicerna dan cukup minimalis.

‘Honeymoon on Ice’ adalah single pertama dari mereka yang diperkenalkan ke publik dan mendapat apresiasi bagus dari salah satu radio anak muda Ibukota. Lagu paling minimalis ini terinspirasi dari sebuah film karya Michel Gondry yang berjudul “Eternal Sunshine of the Spotless Mind.”

Selain itu, “Lil’fish records”, label milik Agus Sasongko, Media Distorsi tertarik untuk merilis album penuh mereka setelah mendengarkan beberapa lagu The Trees and The Wild via myspace. Dari sana kemudian terjalin kerjasama antar keduanya. Alhasil, bulan Februari 2009 mendatang rilisan penuh pertama dari band ini resmi akan beredar di bawah payung label tersebut. Sebagai informasi “Lil’fish records” sempat menangani album Pure Saturday dan The Morning After.
The Trees and The Wild adalah: Andra B. Kurniawan, Iga Massardi, Remedy Waloni.
 

download album RASUK

Endah n Rhesa ( Nowhere to Go ) 2009

 Endah N Rhesa adalah project musikal yang terbentuk dari akustik gitar, bass dan vokal. Warna yang mereka bentuk dari tiga instrumen ini adalah folk, jazz, blues, rock and roll dan ballads. Mereka berdua dipertemukan di sebuah band yang pada awalnya berkonsep rock pada tahun 2003 awal. Selepas band tersebut di tahun 2004, Endah Widiastuti membangun citranya sebagai seorang solois seperti sebelum ia bergabung dengan band tersebut.

Endah merekam beberapa lagu – lagunya dalam album berjudul “The New Beginning” yang berisi empat lagu dan dijual secara sendiri dengan produksi terbatas. Di satu lagu dalam album tersebut Rhesa menambahkan bass dan menjadi sebuah perpaduan apik antara ketiga instrumen tersebut (vokal, gitar dan bass). Lagu itu berjudul “When you love someone”. Sejak saat itu mereka berdua sering bermain bersama di acara – acara universitas, dan respon yang didapat sangat positif. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membuat sebuah nama duo yang diambil dari nama mereka sendiri yaitu ENDAH N RHESA.

Endah N Rhesa mendapatkan inspirasi untuk mulai bermain dalam format minimalis akustik justru dari band – band lokal seperti Cozy Street Corner, Bonita, Anda. Endah sendiri terinfluence dengan Alanis Morissete dan Norah Jones dalam bernyanyi. Sedangkan 4 “john” yang berpengaruh terhadap permainan gitarnya adalah John Mayer, John Butler, John Scofield, John Frusciante ditambah dengan Pat Metheny dan Pemain Alat Musik Serba Bisa Warman Nasution dari TOR.

Sedangkan Rhesa Aditya adalah sosok unik yang banyak terinfluence oleh gitar akustik seperti, Jack Johnson, Dave Matthews, James Taylor dan musisi folk ballad lainnya. Les Claypool, Victor Wooten, Flea dan satu orang yang membuatnya bermain bass yaitu mantan penyanyi cilik Bondan Prakoso. Terakhir, influence terbesar mereka dalam menciptakan musik adalah Bela Fleck & The Flecktones yang memberikan nuansa yang kaya akan groove dan harmoni, karena musik mereka terbentuk dari dua unsur itu.

Endah N Rhesa telah menelurkan Nowhere To Go (Versi Lama) ‘2005’ dan Real Life (Rekaman Live mereka di studio) ‘2006’. Keduanya dipasarkan secara sendiri oleh mereka berdua dalam setiap panggungnya. Setelah mengeluarkan album Nowhere To Go (Repackage) yang telah beredar dipasaran, Endah N Rhesa memulai karirnya dalam dunia yang lebih luas lagi. Tutur mereka, Musik yang kami buat adalah musik yang jujur dari dalam hati kami”.

Download album klik DISINI